Karimun – Dengan adanya kelonggaran untuk kembali bersandarnya kapal dengan bobot 1.000 GT di Pelabuhan Taman Bunga Tanjung Balai Karimun, memberikan harapan besar bagi pekerja bongkar muat yang selama ini hanya bertahan semampunya.
Sebelumnya, sejak tahun 2022 Kapal berukuran besar tidak lagi boleh merapat. Kapal yang biasanya sandar dipindahkan ke pelabuhan Parit Rampak.
Sejak saat itu sinar harapan perlahan meredup di mata para pekerja. Aktivitas bongkar muat yang biasanya padat, berubah menjadi sunyi senyap.
Kembalinya aktif kegiatan bongkar muat barang di Pelabuhan itu, tentunya ibarat mereka yang selama ini harus bertahan di tengah gelombang laut menanti adanya pulau untuk dapat menepi dan betahan hidup.
Pelabuhan bongkar muat juga beberapa tahun belakangan tidak bising dengan aktifitas. Kini akan memulai kembali irama-irama dengan suara mesin truk, deru crane, yang ditambah sorak semangat pekerja.
Tentu, semua itu tidak akan terjadi dengan mudah. Ada sentuhan tangan dingin yang membelai, sehingga nadi yang selama ini berdenyut lemah untuk bertahan hidup, seakan kembali memompa dengan kuat dan semangat.
Semua ini berkat pelonggaran kebijakan yang diupayakan Bupati Karimun Iskandarsyah yang mencari cara agar kapal berbobot 1.000 GT kembali diizinkan bersandar di dermaga ini.
Di pelabuhan ini juga, ada 76 orang buruh yang menggantungkan nasibnya di sini, ditambah 35 armada truk yang hidup dari muatan yang turun dan naik. Ketika pembatasan diterapkan, mata pencaharian mereka seolah terputus begitu saja.
Parni, Ketua Tenaga Kerja Bongkar Muat (TKBM), masih teringat betapa beratnya masa-masa sulit yang mereka lalui.
“Selama tiga tahun belakangan ini, rasanya berat sekali. Kadang dalam satu bulan, cuma ada satu atau dua kapal yang sandar. Itu pun harus dibagi-bagi. Padahal kalau kapal besar datang, kami bisa bekerja terus menerus sampai enam hari lamanya. Itu berarti ada penghasilan yang cukup untuk makan keluarga, untuk biaya sekolah anak. Tapi saat itu, semua itu hilang,” ucap Parni dengan suara yang bergetar.
Bahkan, banyak dari rekan-rekannya yang sempat tak punya penghasilan sama sekali. Harapan untuk membawa rezeki pulang nyaris hilang.
Namun, kabar baik datang dari Pemerintah Kabupaten Karimun yang mengupayakan untuk dikeluarkannya kebijakan baru yang melonggarkan aturan sandar. Titik terang itu terlihat nyata saat kapal MV Intan 31 resmi diizinkan merapat kembali.
“Kami doakan semoga Pelabuhan bongkar muat yang rencananya akan dibangun lebih dari satu dermaga di pelabuhan Parit Rampak cepat selesai, tapi sembari menunggu penyelesaian yang belum tau kapan, izinkanlah kami mencari nafkah ditempat yang sudah puluhan tahun kami geluti, semoga kapal Intan bisa terus di sini sampai dermaga siap,” ujar Parni
Zainal Abidin, Ketua armada truk dari Koperasi Petak Jaya Sejahtera, tak kuasa menahan rasa syukurnya.
Ia menceritakan bagaimana para pekerja hampir putus asa sebelum kebijakan ini turun. Banyak yang sempat berpikir untuk meninggalkan pekerjaan turun-temurun ini dan mencari nasib ke tempat lain, demi tetap bisa makan.
“Kami sempat benar-benar menganggur. Tak ada pemasukan, tapi kebutuhan rumah tangga tetap ada. Begitu dengar ada kebijakan kelonggaran, rasanya hati kami terasa lega luar biasa. Apalagi melihat kapal besar seperti MV Intan 31 kembali sandar, rasanya seperti mimpi yang jadi kenyataan,” ujar Zainal.
Bagi para buruh pelabuhan, kebijakan ini bukan sekadar aturan pemerintahan semata. Ini adalah pintu yang kembali terbuka, jalan yang kembali bisa mereka lalui untuk menafkahi istri dan anak-anak di rumah.
Permohonan mereka sederhana saja ‘biarkan nadi pelabuhan ini terus berdenyut, biarkan kapal-kapal terus datang, agar tangan-tangan kasar mereka tetap bisa bekerja dan berkeringat untuk keluarga’.
“Kami sangat berterimakasih kepada pak Bupati dan Pak Dewan Suryadi yang sudah memperjuangkan kami sehingga kami bisa tetap mencari rezeki, semoga kebijakan kelonggaran ini terus dipertahankan dan dipahami betapa besar manfaatnya bagi kami para buruh,” ujar Zainal
Mereka meminta agar kapal MV. Intan 31 tetap sandar di Ponton pelabuhan bongkar muat Taman Bunga, sehingga mereka tidak lagi memikirkan cara lain untuk bertahan hidup.
“Yang penting kapal tetap sandar di sini, kami siap bekerja sekuat tenaga. Asal ada kerjaan, kami bisa makan, kami bisa sekolahkan anak,” ungkap Zainal mewakili rekan-rekannya
Kini, di balik keringat yang kembali menetes di bawah terik matahari Pelabuhan Taman Bunga, terselip senyum lega dan harapan yang tumbuh kembali.
Aktivitas yang hidup kembali ini menjadi bukti nyata, bahwa ketika roda ekonomi berputar, kesejahteraan rakyatlah yang akan tumbuh dan melaju dalam keharmonisan.






